Jayapura, Suhu politik menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur Papua 6 Agustus 2025 semakin memanas. Muncul dugaan serius mengenai praktik kampanye hitam yang dilakukan oleh pihak yang diduga berasal dari tim sukses pasangan calon Benhur Tomi Mano–Costan Karma (BTM-CK). Mereka dituduh menyebarkan informasi palsu yang mengaitkan calon gubernur Matius Derek Fakhri (MDF) dengan kematian almarhum Lukas Enembe, mantan Gubernur Papua.
Isu sensitif ini beredar luas di berbagai media sosial dan grup pesan instan, menyebut bahwa MDF — yang juga mantan Kapolda Papua — terlibat dalam kematian Lukas Enembe. Tuduhan tersebut dinilai sangat tidak berdasar, tidak didukung bukti, dan dianggap sebagai fitnah serius yang bisa memicu ketegangan sosial dan politik di Papua, yang masih berduka atas kepergian tokoh besar tersebut.
Tim sukses MDF–Aryoko Rumaropen (MARI YO) membantah keras tudingan itu. Ketua Umum Relawan MARI YO MANIA, Hendrik Yance Udam (HYU), dalam pernyataannya di Markas Besar Relawan MARI YO MANIA di Abepura, Kota Jayapura (20/6), menyebut isu tersebut adalah kebohongan besar yang sengaja dihembuskan oleh pihak yang merasa terancam dengan elektabilitas MDF.
“Kami tegaskan, tuduhan bahwa MDF membunuh Lukas Enembe adalah hoaks. Justru saat menjabat Kapolda, MDF adalah sosok yang banyak membantu almarhum. Ini adalah manuver politik murahan yang dimainkan karena ketakutan akan kekalahan di PSU nanti,” tegas HYU.
Menurut HYU, dukungan masyarakat Papua, terutama dari kawasan Pegunungan atau yang dikenal sebagai “Suara Anak Gunung,semakin solid ke pasangan MARI YO. Hal inilah yang diduga membuat pihak lawan ketar-ketir dan mulai menyebarkan isu-isu bohong demi menjatuhkan lawan.
“Suara Anak Gunung 100 persen untuk MARI YO! Dan kami yakin masyarakat Papua tidak mudah terprovokasi oleh kampanye hitam. Mereka sudah cerdas dalam menyaring informasi,” tambah HYU.
Beberapa tokoh adat dan pemuda Papua juga menyuarakan keprihatinan atas praktik politik tidak sehat ini. Mereka mendesak Bawaslu dan aparat penegak hukum untuk segera menyelidiki penyebaran flayer dan informasi hoaks yang menyudutkan MDF, agar demokrasi di Papua tidak dirusak oleh praktik-praktik kotor.
Meski belum ada bukti konkret yang mengaitkan langsung tim BTM-CK dengan penyebaran isu tersebut, HYU menilai bahwa pola penyebaran dan narasi yang digunakan sangat mengarah ke strategi politik lawan.
“Kami tidak menuduh tanpa dasar. Tapi kami minta semua pihak tetap menjunjung asas praduga tak bersalah, sembari menanti tindakan tegas dari pihak berwenang,” tutupnya.
Publik pun diimbau untuk menjaga suasana politik yang kondusif dan tidak terjebak dalam arus informasi yang belum terverifikasi. PSU Pilgub Papua diharapkan berjalan jujur, adil, dan damai demi masa depan Papua yang lebih baik.
